Stop Killing Games Tembus 1 Juta Tanda Tangan: Awal Perlawanan atas “Matinya” Game Digital?

3 min read

Game digital bukan lagi milik kita? Itulah pertanyaan yang coba dijawab oleh gerakan Stop Killing Games, sebuah inisiatif konsumen yang menantang praktik penerbit game yang secara sepihak mematikan akses terhadap game berbayar. Baru-baru ini, gerakan ini mencapai tonggak penting: 1 juta tanda tangan dalam petisi resmi Uni Eropa, membuka peluang untuk mendapatkan sidang di parlemen Eropa — dan mungkin, memicu perubahan hukum.

Cek juga: NVIDIA RTX 50 Series Mulai Menanjak di Steam, AMD & Intel Masih Absen

Game seperti The Crew buatan Ubisoft menjadi simbol masalah ini. Setelah beredar selama 10 tahun, game tersebut ditutup total, membuatnya tidak bisa dimainkan, bahkan untuk pemain yang sudah membelinya. Tidak ada mode offline, tidak ada patch terakhir, hanya layar error.

Stop Killing Games — digawangi oleh Joe Scott dari channel Accursed Farms — menyuarakan bahwa ini bukan sekadar keputusan bisnis, tapi pelanggaran hak konsumen. Jika kita membeli game layaknya barang, kenapa publisher bisa mencabut hak kita untuk memainkannya sewaktu-waktu?

Awal Perlawanan atas "Matinya" Game Digital?

Target: 1,4 Juta Tanda Tangan Sebelum 31 Juli

Meskipun secara teknis sudah mencapai angka 1 juta, Scott menegaskan bahwa banyak tanda tangan berasal dari luar Uni Eropa atau tidak valid. Maka dari itu, target riil adalah 140% dari jumlah minimum, atau sekitar 1,4 juta tanda tangan, untuk mengantisipasi verifikasi yang ketat dari UE.

Menurut situs pemantau independen Stop Killing Games Tracker, lonjakan dukungan luar biasa terjadi — 500.000 tanda tangan hanya dalam sepekan terakhir. Jika tren ini berlanjut, batas tersebut bisa tercapai sebelum tenggat 31 Juli 2025.

Kenapa Ini Penting?

Gerakan ini bukan hanya soal The Crew. Ini soal:

  • Game digital yang tidak bisa dimainkan setelah server ditutup.
  • Konsumen yang membayar penuh untuk akses yang tidak dijamin selamanya.
  • Kurangnya regulasi hukum atas produk digital yang bergantung pada server penerbit.

Jika petisi ini berhasil, Parlemen Eropa bisa mengajukan regulasi baru yang memaksa penerbit untuk meninggalkan game dalam keadaan “playable” saat mereka tak lagi mendukungnya — entah dengan mode offline, server publik, atau pembukaan kode sumber.

Di balik layar industri, banyak publisher berargumen bahwa kita tidak membeli game, tapi hanya “menyewa lisensi” untuk memainkannya selama publisher mau. Gerakan ini menantang logika tersebut: jika tidak ada tanggal kedaluwarsa, maka konsumen berhak mendapat jaminan fungsionalitas dasar.

Jika tidak, maka yang kita hadapi adalah masa depan di mana game menjadi layanan sementara, bukan produk yang bisa kita simpan, mainkan ulang, atau lestarikan.

Gerakan Stop Killing Games belum menang, tapi ini adalah langkah besar menuju perubahan. Jika kalian peduli dengan hak digital, kepemilikan game, dan pelestarian budaya video game, inilah saatnya untuk bersuara.

🔗 Tanda tangani petisi sebelum 31 Juli di situs resmi European Citizens’ Initiative.

 

You May Also Like

More From Author

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments