Ambisi AI Tiongkok Terhalang Embargo NVIDIA

3 min read

Di tengah tensi geopolitik yang terus meningkat, Tiongkok kini mempersiapkan langkah besar dalam revolusi kecerdasan buatan. Rencana pembangunan 36 pusat data raksasa di wilayah barat negara tersebut—terutama di daerah terpencil seperti Yiwu, Xinjiang—menjadi bukti ambisi nasional untuk mendominasi era AI generatif global. Namun, di balik proyek ini, terselip satu tantangan utama: embargo ekspor GPU NVIDIA oleh Amerika Serikat.

Cek juga: Razer BlackWidow V4 Tenkeyless HyperSpeed: Keyboard Nirkabel Premium untuk Gamer Moderen

Menurut analisis Bloomberg, pusat-pusat data ini akan menampung lebih dari 115.000 prosesor AI NVIDIA, termasuk seri H100 dan H200 yang terkenal sebagai otak utama model-model AI generatif saat ini. Lokasi Yiwu dipilih karena kombinasi ideal antara:

  • Sumber daya energi terbarukan (angin dan surya)

  • Cadangan batubara lokal

  • Iklim pegunungan yang lebih sejuk, ideal untuk pendinginan server

Salah satu perusahaan AI Tiongkok dikabarkan telah mengusulkan tahap awal pemasangan 625 server H100, setara dengan sekitar 2.000 GPU, dan jumlah ini diprediksi akan terus bertambah dalam fase-fase berikutnya.

Sayangnya, semua perencanaan ini berbenturan dengan kebijakan ekspor Amerika Serikat. Pemerintah AS telah melarang penjualan GPU canggih seperti NVIDIA H100/H200 ke Tiongkok tanpa lisensi khusus, yang hingga kini tidak pernah diberikan.

Tidak ada kejelasan dari perusahaan maupun pejabat pemerintah Tiongkok terkait bagaimana mereka akan memperoleh chip-chip ini. Para ahli menilai sangat kecil kemungkinan bahwa puluhan ribu GPU canggih dapat diselundupkan secara diam-diam tanpa terdeteksi oleh otoritas perdagangan internasional.

Huawei dan Solusi Domestik: Harapan atau Realita?

Dalam menghadapi keterbatasan pasokan NVIDIA, perusahaan seperti Huawei dan SMIC berupaya menjadi alternatif. Produk Huawei seperti CloudMatrix 384 menjadi simbol kemandirian teknologi dalam sektor AI. Namun kenyataannya:

  • Proses manufaktur chip canggih tetap menjadi tantangan berat

  • SMIC masih tertinggal dalam litografi sub-7nm dibanding pesaing global

  • Workflow produksi lambat dan efisiensi belum stabil

Huawei memang telah membangun rantai pasok semikonduktor mandiri, tetapi ekosistem software tetap menjadi kendala besar, terutama karena NVIDIA CUDA masih menjadi standar industri untuk pelatihan dan inferensi model AI skala besar.

Meskipun Tiongkok berupaya mandiri secara teknologi, permintaan terhadap GPU NVIDIA tetap tinggi. Hal ini terjadi karena:

  • Mayoritas framework AI seperti PyTorch dan TensorFlow sangat optimal pada CUDA

  • Model AI modern membutuhkan hardware inferensi dengan performa tinggi

  • Infrastruktur riset di banyak laboratorium AI Tiongkok sudah dibangun berbasis CUDA selama bertahun-tahun

Dengan kata lain, NVIDIA bukan hanya penyedia perangkat keras, tapi juga fondasi sistem AI global—dan inilah yang membuat embargo AS sangat efektif.

Ambisi Tiongkok untuk memimpin era AI melalui jaringan pusat data besar-besaran menunjukkan komitmen strategis jangka panjang, tetapi juga menggarisbawahi kerentanannya terhadap ekosistem teknologi asing. Embargo GPU bukan sekadar hambatan teknis, melainkan ujian kedaulatan digital.

Dengan slogan “data-electricity fusion shows great promise” yang terpampang di bukit Yiwu, Tiongkok memang menampilkan visi optimistis. Namun di baliknya, tantangan dalam akuisisi perangkat keras kritikal dan membangun ekosistem AI mandiri tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar.

You May Also Like

More From Author

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments